Burung-burung di Angkasa

birdsites, birdtour, traveling, birdwatching etc..

Godi 17 Agutus 2008 Alas Tekek, Merapi

Posted in Jalan-jalan on Agustus 20th, 2008

Catatan Bird Tour

Godi 17 Agutus 2008 Alas Tekek, Merapi

“Wow, this is good bagus sekali udara disini” (godi), lalu menghirup udara sejuk di Basecamp Regol Merapi. Dia adalah seorang guru bahasa Indonesia di belanda yang sedang liburan di Yogyakarta. 2 gelas kopi di pagi hari mengawali kegiatan birdtour di Jalur sarang Elja Alas Tekek Merapi. Satria dan wawan memandu acara birdtour kali itu. Sepanjang perjalanan banyak sekali bercakap-cakap dengan dia, maklum Godi bukan Twitcher murni tetapi lebih menikmati alam, udara segar pegunungan dan bicara masalah-masalah sosial dan lingkungan. Jam 10 pagi kami mulai berjalan menyusuri jalur pengamatan. Di regol merapi, basecamp sekaligus pos pertama , kami melihat sepasang Cabai gunung (Blood-breasted Flowerpecker) dan mendengar suara Javan Kingfisher dan oriental white eye. Pos kedua adalah tuk pitu yang merupakan tempat peletakkan sesajen untuk Merapi. Suara-suara banyak sekali didengar disini tapi sulit terlihat wujudnya seperti Pygmy Wren-babbler, Little Pied Flycatcher and Brown Prinia. Setelah beberapa waktu kami habiskan untuk ngobrol tentang Tuk pitu, menyapa para perumput di Merapi dan sebagainya, lalu kami mulai melihat burung-burung. Slender-billed Crow, Javan Kingfisher, Malaysian Cuckoo-shrike, oriental white eye, Great Tit, Ashy Drongo and also linci swiftlet. So boring with you “common mach Great Tit!” (Godi), terlalu sering kami melihat Great Tit di sana. Di pos Bambu mulai terdengar suara Parakeet yang berada di sebelah barat kami jauh di seberang. Di pos ketiga tersebut kami melihat seekor Long tailed Shrike yang menirukan 8 suara burung lain. Godi sangat terhibur, that Long tailed Shrike meniru suara White breasted Woodswallow, Ashy drongo, Sooty headed Bulbul, Striated Grassbird, Red breasted Parakeet, Olive back Sunbird. Yelllow throated Hanging parrot beberapa kali melintas di atas kami, lalu sooty headed Bulbul, White breasted Woodswallow, Oriental White eye, Velvet-fronted Nuthatch and Great Tit. Kami cukup lama di situ sebelum melanjutkan perjalanan ke Pos Sarang Elja. Di Pos tersebut kami melihat sarang Elang jawa yang sudah ditinggalkan, berbicara tentang sarang Orange-fronted Barbet yang digergaji oknum tidak berperikehewanan dan beristirahat. Di Pos sarang Elja tersebut tiba-tiba kami melihat seekor Javan Hawk eagle sedang dikejar oleh Slender-billed Crow melintas dekat dengan kami sekitar 10 Meter. Godi sangat exciting dengan hal itu, lalu si Elang terbang ke barat dan menghilang. Slender-billed Crow merasa menang dia terbang berputar dan kembali ke timur. Beberapa saat kemudian muncul Javan Hawk eagle dengan bulu primer sebelah kanan rusak sedang di bombardier oleh 3 ekor White breasted Woodswallow. Si Elja mengeluarkan suara “kek-kek” terbang berputar-putar di atas kami lalu menuju ke timur. Ige dan 3 orang teman menyusul, dan kami semua bertemu di pos Sarang Elja pukul 12.00. Burung-burung yang berhasil kami amati dan kami dengar di situ yaitu Pink-headed Fruit-Dove, Indigo flycatcher, Rusty-breasted Cuckoo, Cave swiiftlet, Short-tailed Starling, Red-breasted Parakeet, Yellow-throated Hanging-parrot, Slender-billed Crow, Orange-fronted Barbet, Sooty headed Bulbul, Chestnut-backed Scimitar-babbler, Orange-spotted Bulbul, Fulvous-breasted Woodpecker, Black-banded Barbet, Lineated Barbet, Long-tailed Shrike, Oriental White-eye, Great Tit and Black Eagle. Pukul 14.30 kami turun, delam perjalanan Godi melihat juga Sunda Whistling-thrush and Malaysian Cuckoo-shrike dengan jelas. “This day is Very nice, thanks Wawan, Satria and Ige” (Godi).

WawanKIBC

Attachment: edit2.jpg
Attachment: edit3.jpg
Attachment: edit4.jpg
Attachment: edit5.jpg

Catatan Jendela 1

Posted in Catatan Jendela 1 on Mei 20th, 2008

Catatan Jendela 1  -  15 mei 2008 saat lampu toko buku mulai padam

Kadang hidup terasa begitu cepat..waktu2 yang menyenangkan waktu-waktu yang bikin kita relex, fresh, bersemangat, berambisi, mencermati intuisi, melakukan sesuatu yang menjadi warna baru untuk dunia. Namun adalah konsekwensi kadang waktu juga terasa lambat, saat-saat menanti, hari yang tak kunjung datang, ke-tidak-nyamanan, ketakutan, kesendirian, kejenuhan..melakukan sesuatu diluar hasrat sejati.

 

Menorehkan kata-kata yang tak juga selesai (mungkin hingga akhir hayat) tanganku menari di atas ‘keybord’ menulis apa saja melantunkan jiwa dan mengeja dunia. Ada yang tak mengerti tapi tetap saja seperti itu statis tak bergerak, dia adalah alat yang terus dijalankan dengan semangat dan keberanian.

 

MUNGKIN SEBUAH CAHAYA BARU

 

Dari ’jendela’ kumeliat riuh rendah, kesunyianku di keramaian..

Walik Kembang

Posted in Jalan-jalan on Mei 19th, 2008

Catatan Pengamatan 15 Mei 2008

Walik Kembang

 

Pagi cukup cerah, saat kuparkir motor di depan gerbang Taman Telogo Nirmolo. Jam 8 pagi, kemudian aku memasuki taman wisata di lereng selatan Merapi itu. Berhenti di suatu gasebo di ujung taman, kumelihat ke arah utara. Bukit Turgo yang menjulang dan pohon pinus bekas sarang elang hitam berdiri tegak tanpa kabut yang menyelimuti. Mendadak muncul dari sungai boyong (sebelah timur Turgo), seekor burung Alap-alap Sapi (Falco moluccensis). Rupanya dia membawa seekor mangsa, dari ekor yang menjuntai, mungkin itu adalah mangsa berupa seekor tikus. Sembari beristirahat di situ, aku melihat banyak burung-burung kecil seperti burung Madu Gunung (Aethopyga eximia), Kacamata biasa (Zosterops palpebrosus), Sikatan belang (Ficedula westermanni), Sikatan Ninon (Eumyas indigo), Cabai gunung (Dicaeum sanguinolentum) dan Walet linci (Colocalia linchi). Kemudian burung Ciung batu kecil (Myophonus glaucinus) yang berukuran agak besar (seukuran merpati), berwarna hitam kebiruan seluruhnya, melompat-lompat di ranting pohon-pohon Puspa.Tanpa sadar sudah 1 setengah jam aku berada di situ, saat tiba-tiba kutangkap sebuah pergerakan di atas dahan dan daun-daun Puspa. Burung itu berbentuk serupa burung merpati melompat-lompat di dahan puspa yang berada sekitar 5 meter. Ruang pandangku sangat vertikal, terlihat tungging dan perutnya yang berwarna kuning tua. Tampak dia mencoba mengamati ke bawah, kepala dan lehernya berwarna putih keabu-abuan perak, ada garis hitam tebal pada mahkota sampai leher belakangnya. Warna sayap dan punggung hijau, sedangkan warna dada hijau muda. Kontak pandang dengan lensa binokulerku selama kurang lebih 5 detik lalu dia melompat dan berpindah ke dahan di dekatnya. Aku coba mengkuti arah perpindahannya, sehingga sekarang masih terlihat warna kuning tua di tunggingnya sedangkan kepala dan leher serta punggungnya tertutup daun-daun puspa. Sekitar 3 detik kemudian dia terbang ke atas dan menghilang di telan dedaunan Puspa. Dari ciri-ciri tersebut burung seukuran perkutut ini adalah Walik kembang (Ptilinopus melanospila). Burung ini sangat jarang kutemui, terakhir ketemu di Kebun raya bogor tahun 2005. 

 

Wawan KIBC 

Birdtour

Posted in Jalan-jalan on Mei 18th, 2008

mas mbak ada paket wisata yang gak gratis..he, coba di www.kibchome.multiply.com wisata melihat BURUNG DI ALAM..dscn3334.jpgBetet biasa

NGGAMBLEH 1 _ Tulisan ilmiah

Posted in Nggambleh on Mei 14th, 2008


Tulisan ilmiah bisa berarti tulisan yang kaku, ‘EYD’ banget, kesan pinter, hebat, banyak referensi dan sebagainya., yang pasti tulisan ilmiah bisa meloloskan kita dari bangku kuliah yang ‘membosankan’ (setidaknya ini menurut saya..subyektif banget memang). Tapi ya subyektifitas adalah hal yang tidak mungkin dihindarkan..trus buat apa dihindari? Kebebasan manusia sangat subyektif untuk masing-masing orang, nah apakah kebebasan itu ada batasnya gak? Hehe.namanya bebas kok pakai pembatas?? Aneh. Yang namanya bebas adalah ‘Tanpa Batas’. Kembali ke tulisan ilmiah, kenapa kita harus membuat tulisan ilmiah menjadi tulisan kaku, formil, siapa yang mengharuskan?, Kita selalu terjebak dalam ‘obyektifitas?’ (mungkin) mengacu pada hal-hal sebelumnya yang terlihat jauh lebih ilmiah dan lebih ‘megah’. Taruhlah contoh di dunia kita ‘Pengamatan burung’, selalu mengacu pada IUCN, CITES, RAMSAR, JURNAL BLABLABLA ..dsb..pokoknya yang berada dalam dunia-dunia yang ‘ngilmiah’ bangeet..(ih wek..). Pakde mbilung alias kang ijo..(dari nama julukkannya aja terkesan nge’pop’ banget). Dia pengelola blog ‘abal-abal’ Ndobos pol..isi blognya ming ‘Ngambleh’ asik tapi juga tetep ilmiah, Ngga nyangka dia adalah Bpk. Rudyanto! Salah seorang dari “dewa-dewanya pengamat burung” (diatas sana),..he gpp ya om soalnya aku nge-fan banget sih karo sampeyan (java’s language). Bahkan pak Tomi dono-pun ‘iseng’ nulis ilmiah populer di Sinar Harapan..siapa dia (konon juga salah satu dewa-dewa) dia nulis ‘tentang bondol haji’! (apa menariknya bondol haji untuk dunia ornithology?) kalau nulis ini di kukila dijamin gak akan dimuat (kali, hehe..). tapi hebatnya dia tuh menulis dengan bahasa yang tidak terlalu ‘ngilmiah’ tapi yang pasti tetep ILMIAH,  lho kok bisa? Ya bisa aja..sing ora iso ki ming nglethak ndas’e dewe (kata pak Tri Setiadi yang juga salah satu ‘board’nya Yayasan Kutilang, hehe..halo pak tri..). Tulisan ilmiah bisa juga ‘nge pop’ alias ‘populer’ dan yang baca juga akan bertambah luas. Bahasa ekonominya (mungkin) dengan semakin banyaknya konsumen akan otomatis menambah luasan pasar, kan asik ya toh? Kita lebih bebas dan pasar bertambah lalu yah (mungkin lagi) income bertambah juga..monggo di bales tapi kl bisa yang santai aja gak usah serius2 banget, hehe..ntar malah bisa jadi perang. Kalau dah gitu yah siapa takut? Lo jual gua beli..

Salam Gudeg

Wawankibc

O85292680430

http://www.wawankibc.dagdigdug.com

kibczone@yahoo.com

nampang gratisss..he

Posted in 1 on Mei 14th, 2008

jan-9th-northen-plawangan-7.jpgMase..

KEDASI AUSTRALIA

Posted in kabar terbaru dari Trisik on Mei 9th, 2008

kaKedasi australia burung migran dari australia..katanya sih gitu, aku lama banget gak liat..kalau gak salah dulu tahun 2005 kalau gak 2006 di kinah rejo. waktu aku dibonceng di atas motornya liem wensin. tiba-tiba dia berhenti, di bawah rumah mbah Marijan..lalu kami lihat segerombol Kutilang. kontan kita serempak Hormat!..pak lim sangat jeli lihat satu ekor burung di antara sekitar 8 kutilang itu. pak lim2..matane sih cino sipit tapi kok awas ya..he, gak tau kalau sekarang dia sibuk ngurusin bengkelnya. kembali ke kedasi australi ternyata yang ada satu burung yang beda di antara kutilang-kutilang itu. dia lebih pendiam dan bahkan ketika gerombolan kutilang itu pergi dia tetep aja disitu..dasar manuk bingung! he,. yah sedikit bernostalgila ..sekarang katanya di TRISIK lagi banyak..berapa ya. si adhy Maruli punya fotonya bagus..he, hebat loh..selamat ya.

Catatan burung-burung di angkasa

Posted in Sejarah berawal dari sebuah pagi on Mei 3rd, 2008

Catatan burung-burung di angkasa_Juni 2003

Tanpa sebab yang jelas seketika aku terbangun dari tidur, kutatap pintu kamar kosku yang sedikit terbuka. Seberkas cahaya pagi masuk menelusup ke dalam kamar. Seorang temanku yang tadi malam menginap di sini masih tampak tertidur pulas. Disamping tubuhnya tergeletak sebuah teropong atau ‘binokuler’ kecil ber-merk ‘tasko’. Beberapa hari ini, kuamati dia selalu membawa benda tersebut kemana-mana dan satu tas yang berisi buku yang isinya gambar-gambar burung. Lalu aku ambil binokuler itu, kucoba memandang keluar kamar lewat binokuler itu. Terlalu lama melihat lewat lensa binokuler tersebut membuat mataku sakit, tapi cukup menarik, pikirku. Dengan alat tersebut, obyek pandanganku terlihat menjadi lebih besar dan jelas. Aku mulai mencoba melihat orang-orang yang berjalan di jalan depan sana, aku lihat beberapa mahasiswi yang berangkat kuliah juga para pedagang kaki lima yang mendorong gerobak dagangnya ketempat mereka berjualan. Aku lihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul 6 pagi. Hari yang cerah langit tampak cerah dengan sedikit awan yang menyebar tidak beraturan di langit. Kemudian aku melihat sekelompok burung-burung berada tepat di depan kamarku kira-kira 5 meter dari tempat aku berdiri. Aku coba membidik mereka burung ini berwarna coklat dengan sapuan hitam dan putih diseluruh tubuhnya. Aku lihat sapuan warna hitam lebih mencolok didaerah pipi mereka. Paruh kecil tidak terlalu panjang dan runcing, mereka tampak sibuk mencari-cari makanan (mungkin) diantara sampah-sampah plastik, bungkus-bungkus roti wafer dan dedaunan. Jumlah mereka aku hitung ada 6 mungkin mereka, adalah 3 pasang jantan dan betina (mungkin saja). Mereka tampak asyik sekali tanpa menyadari ada yang mengamati tingkah laku mereka. Mereka lucu-lucu, bergerak kesana kemari, berjalan dan melompat di atas tanah lalu dengan paruhnya mulai mengorek-orek sampah-sampah. ‘Dasar burung sampah’, pikirku, tapi kuakui aku menikmati pemandangan itu.

Temanku itu sering datang dan menginap di kosku, dari ngobrol-ngobrol dengan dia akhirnya aku tau dia pengamat burung. Dan dari buku burung yang sering dibawanya aku tahu burung-burung tersebut adalah burung gereja erasia atau dalam bahasa ilmiahnya ‘Passer montanus’. Kadang-kadang dia pergi bersepeda sampai ke hutan wanagama untuk mengamati burung. Jarak hutan tersebut dari kosku cukup jauh, biasanya dia bersepeda sampai 2 jam lebih untuk sampai disana. Dari dia aku tahu ada komunitas pengamat burung di jogja dan komunitas ini setiap bulan mengadakan acara pengamatan burung bersama (Jogja bird walk (JBW)). Semenjak itu, aku sering mengikuti acara JBW tersebut dan mulai mencintai burung-burung yang hidup di alam. Aku suka melihat mereka bebas di alam, entah mengapa aku sangat menikmati saat-saat mengamati burung-burung di habitatnya. Kemudian aku mulai menjadi ‘sakau’ pengamatan burung, aku selalu berusaha untuk melihat burung-burung dimanapun aku berada seperti di gunung, di perkotaan, di kampus, di sawah dan sebagainya. aku membuat catatan jenis-jenis burung yang pernah kulihat (List burung). Adalah suatu ‘kebanggaan’ tersendiri ketika bertemu dengan burung-burung baru yang sebelumnya tidak pernah kulihat.