Posted by wawankibc on Mei 14th, 2008
Tulisan ilmiah bisa berarti tulisan yang kaku, ‘EYD’ banget, kesan pinter, hebat, banyak referensi dan sebagainya., yang pasti tulisan ilmiah bisa meloloskan kita dari bangku kuliah yang ‘membosankan’ (setidaknya ini menurut saya..subyektif banget memang). Tapi ya subyektifitas adalah hal yang tidak mungkin dihindarkan..trus buat apa dihindari? Kebebasan manusia sangat subyektif untuk masing-masing orang, nah apakah kebebasan itu ada batasnya gak? Hehe.namanya bebas kok pakai pembatas?? Aneh. Yang namanya bebas adalah ‘Tanpa Batas’. Kembali ke tulisan ilmiah, kenapa kita harus membuat tulisan ilmiah menjadi tulisan kaku, formil, siapa yang mengharuskan?, Kita selalu terjebak dalam ‘obyektifitas?’ (mungkin) mengacu pada hal-hal sebelumnya yang terlihat jauh lebih ilmiah dan lebih ‘megah’. Taruhlah contoh di dunia kita ‘Pengamatan burung’, selalu mengacu pada IUCN, CITES, RAMSAR, JURNAL BLABLABLA ..dsb..pokoknya yang berada dalam dunia-dunia yang ‘ngilmiah’ bangeet..(ih wek..). Pakde mbilung alias kang ijo..(dari nama julukkannya aja terkesan nge’pop’ banget). Dia pengelola blog ‘abal-abal’ Ndobos pol..isi blognya ming ‘Ngambleh’ asik tapi juga tetep ilmiah, Ngga nyangka dia adalah Bpk. Rudyanto! Salah seorang dari “dewa-dewanya pengamat burung” (diatas sana),..he gpp ya om soalnya aku nge-fan banget sih karo sampeyan (java’s language). Bahkan pak Tomi dono-pun ‘iseng’ nulis ilmiah populer di Sinar Harapan..siapa dia (konon juga salah satu dewa-dewa) dia nulis ‘tentang bondol haji’! (apa menariknya bondol haji untuk dunia ornithology?) kalau nulis ini di kukila dijamin gak akan dimuat (kali, hehe..). tapi hebatnya dia tuh menulis dengan bahasa yang tidak terlalu ‘ngilmiah’ tapi yang pasti tetep ILMIAH, lho kok bisa? Ya bisa aja..sing ora iso ki ming nglethak ndas’e dewe (kata pak Tri Setiadi yang juga salah satu ‘board’nya Yayasan Kutilang, hehe..halo pak tri..). Tulisan ilmiah bisa juga ‘nge pop’ alias ‘populer’ dan yang baca juga akan bertambah luas. Bahasa ekonominya (mungkin) dengan semakin banyaknya konsumen akan otomatis menambah luasan pasar, kan asik ya toh? Kita lebih bebas dan pasar bertambah lalu yah (mungkin lagi) income bertambah juga..monggo di bales tapi kl bisa yang santai aja gak usah serius2 banget, hehe..ntar malah bisa jadi perang. Kalau dah gitu yah siapa takut? Lo jual gua beli..
Salam Gudeg
Wawankibc
O85292680430
http://www.wawankibc.dagdigdug.com
kibczone@yahoo.com
Posted in Nggambleh | 5 Comments »
Posted by wawankibc on Mei 14th, 2008
Posted in 1 | 2 Comments »
Posted by wawankibc on Mei 9th, 2008
Kedasi australia burung migran dari australia..katanya sih gitu, aku lama banget gak liat..kalau gak salah dulu tahun 2005 kalau gak 2006 di kinah rejo. waktu aku dibonceng di atas motornya liem wensin. tiba-tiba dia berhenti, di bawah rumah mbah Marijan..lalu kami lihat segerombol Kutilang. kontan kita serempak Hormat!..pak lim sangat jeli lihat satu ekor burung di antara sekitar 8 kutilang itu. pak lim2..matane sih cino sipit tapi kok awas ya..he, gak tau kalau sekarang dia sibuk ngurusin bengkelnya. kembali ke kedasi australi ternyata yang ada satu burung yang beda di antara kutilang-kutilang itu. dia lebih pendiam dan bahkan ketika gerombolan kutilang itu pergi dia tetep aja disitu..dasar manuk bingung! he,. yah sedikit bernostalgila ..sekarang katanya di TRISIK lagi banyak..berapa ya. si adhy Maruli punya fotonya bagus..he, hebat loh..selamat ya.
Posted in kabar terbaru dari Trisik | 5 Comments »
Posted by wawankibc on Mei 3rd, 2008
Catatan burung-burung di angkasa_Juni 2003
Tanpa sebab yang jelas seketika aku terbangun dari tidur, kutatap pintu kamar kosku yang sedikit terbuka. Seberkas cahaya pagi masuk menelusup ke dalam kamar. Seorang temanku yang tadi malam menginap di sini masih tampak tertidur pulas. Disamping tubuhnya tergeletak sebuah teropong atau ‘binokuler’ kecil ber-merk ‘tasko’. Beberapa hari ini, kuamati dia selalu membawa benda tersebut kemana-mana dan satu tas yang berisi buku yang isinya gambar-gambar burung. Lalu aku ambil binokuler itu, kucoba memandang keluar kamar lewat binokuler itu. Terlalu lama melihat lewat lensa binokuler tersebut membuat mataku sakit, tapi cukup menarik, pikirku. Dengan alat tersebut, obyek pandanganku terlihat menjadi lebih besar dan jelas. Aku mulai mencoba melihat orang-orang yang berjalan di jalan depan sana, aku lihat beberapa mahasiswi yang berangkat kuliah juga para pedagang kaki lima yang mendorong gerobak dagangnya ketempat mereka berjualan. Aku lihat jam dinding kamarku menunjukkan pukul 6 pagi. Hari yang cerah langit tampak cerah dengan sedikit awan yang menyebar tidak beraturan di langit. Kemudian aku melihat sekelompok burung-burung berada tepat di depan kamarku kira-kira 5 meter dari tempat aku berdiri. Aku coba membidik mereka burung ini berwarna coklat dengan sapuan hitam dan putih diseluruh tubuhnya. Aku lihat sapuan warna hitam lebih mencolok didaerah pipi mereka. Paruh kecil tidak terlalu panjang dan runcing, mereka tampak sibuk mencari-cari makanan (mungkin) diantara sampah-sampah plastik, bungkus-bungkus roti wafer dan dedaunan. Jumlah mereka aku hitung ada 6 mungkin mereka, adalah 3 pasang jantan dan betina (mungkin saja). Mereka tampak asyik sekali tanpa menyadari ada yang mengamati tingkah laku mereka. Mereka lucu-lucu, bergerak kesana kemari, berjalan dan melompat di atas tanah lalu dengan paruhnya mulai mengorek-orek sampah-sampah. ‘Dasar burung sampah’, pikirku, tapi kuakui aku menikmati pemandangan itu.
Temanku itu sering datang dan menginap di kosku, dari ngobrol-ngobrol dengan dia akhirnya aku tau dia pengamat burung. Dan dari buku burung yang sering dibawanya aku tahu burung-burung tersebut adalah burung gereja erasia atau dalam bahasa ilmiahnya ‘Passer montanus’. Kadang-kadang dia pergi bersepeda sampai ke hutan wanagama untuk mengamati burung. Jarak hutan tersebut dari kosku cukup jauh, biasanya dia bersepeda sampai 2 jam lebih untuk sampai disana. Dari dia aku tahu ada komunitas pengamat burung di jogja dan komunitas ini setiap bulan mengadakan acara pengamatan burung bersama (Jogja bird walk (JBW)). Semenjak itu, aku sering mengikuti acara JBW tersebut dan mulai mencintai burung-burung yang hidup di alam. Aku suka melihat mereka bebas di alam, entah mengapa aku sangat menikmati saat-saat mengamati burung-burung di habitatnya. Kemudian aku mulai menjadi ‘sakau’ pengamatan burung, aku selalu berusaha untuk melihat burung-burung dimanapun aku berada seperti di gunung, di perkotaan, di kampus, di sawah dan sebagainya. aku membuat catatan jenis-jenis burung yang pernah kulihat (List burung). Adalah suatu ‘kebanggaan’ tersendiri ketika bertemu dengan burung-burung baru yang sebelumnya tidak pernah kulihat.
Posted in Sejarah berawal dari sebuah pagi | 2 Comments »