Burung-burung di Angkasa

birdsites, birdtour, traveling, birdwatching etc..

2008 4 Mei 2008 Telogo Putri _Plawangan Jalur kiri Selatan

2008 4 Mei 2008 Telogo Putri _Plawangan Jalur kiri Selatan

Persons : Wawan, Oka, Medh

 

Wow its Orange spotted bulbul!.. dengan kemampuan bahasa Inggris yang terbatas, aku coba tunjukkan ke medh (orang Swedia) yang bersamaku dan Oka. Sekalian latihan ‘guiding’..hehe. Cucak gunung yang sedari tadi terdengar suaranya muncul dalam pandanganku. ‘Spot’ oranye di wajahnya adalah ciri yang sangat mencolok untuk burung seukuran dan berperilaku seperti burung Kutilang. Burung ini adalah jenis cucak yang cukup gampang dijumpai di sini. Medh sangat antusias melihat burung itu, jenis baru bagi dia karena sebelumnya brelum pernah dia jumpai. Vegetasi di sini berada ketinggian 900an meter dpl dan cukup rimbun bagi medh yang orang Swedia bertubuh besar dan tinggi. Susah payah dia melalui jalur yang terlihat sangat rimbun, sepertinya jarang dilalui. “its too thick for me, medh say.. tapi anyway, waduh kok jadi kebulebulean nih he, tapi dia sangat puas dengan perjalanan yang susah tersebut. Perjumpaan berikutnya adalah seekor Srigunting kelabu, (mungkin) karena langkah kami yang teratur dan tidak terlalu brisik, kami bisa sangat dekat dengan burung yang bertengger sekitar 6 Meter di atas - depan kami. Dia bertengger di ranting kering tak berdaun sehingga terlihat sangat mencolok walaupun tampak siluet karena posisinya sekitar75o diatas kami. Proporsi, bentuk panjang ekor dan tubuhnya sudah sangat kukenal sebagai jenis srigunting yang paling umum di sini. Kami coba mencermatinya lewat lensa binokuler beberapa detik sebelum akhirnya dia menyadari kehadiran kami lalu tiba-tiba dia bergerak terbang dan menghilang di tajuk pohon. Perjalanan kami lanjutkan, sampai pada suatu tempat dimana terdapat beberapa pohon kaliandra dengan bunga-bunga merahnya. Seekor burung Cabai gunung jantan (dada berpola warna merah darah, dada keputih-putihan kotor dan punggung juga kepalanya abu-abu kebiruan) bertengger di salah satu ranting kaliandra. Nyanyian si jantan sering sekali diperdengarkan untuk menarik pasangannya ‘si betina’ yang kemudian datang mendekat. “He is very horny! (Medh), burung itu bahkan tidak menghiraukan kami yang mendekatinya sampai pada jarak sekitar 2 Meter, Wow, LT5M! (Less than 5 meters) he, kemudian datang segerombolan kera yang akhirnya membuat burung itu terusik lalu berpindah tempat tapi masih cukup dekat juga (5 meter). Kera-kera itu semakin agresif dan memperlihatkan muka menantang, seperti hendak mengusir kami. Kera-kera yang semakin agresif membuat burung itupun pergi dan menghilang. Kami masih terus berjalan di jalur yang rimbun itu, sampai pada suatu pertemuan dengan sikatan Bubik dan Sikatan Ninon. Huge! (Medh) dia sangat tertarik dengan burung ini tapi dia sangat menyesal tidak membawa kamera andalannya..”he, Poor medh”. Pada kesempatan itu kami bertemu beberapa burung yang menarik buat medh, makhlum dia jarang birdwatching di Jawa, walaupun sudah sangat sering di Papua dan Sulawesi. Kami juga bertemu Jingjing batu dalam perjalanan turun, burung berwarna hitam kebiruan gelap pada punggung, kepala dan ekor sedangkan bagian bawah putih bersih. Lalu si betina yang bagian atas berwarna lebih coklat, tampak pada tenggeran yang sangat bagus untuk di foto. Dengan nada kesal, medh berkata “its enough!, he, dia sangat kecewa karena tidak membawa kamera. He, sekian.

 

BB. Setyawan