burung-burung di angkasa7
Catatan burung-burung di angkasa 27 Maret 2008
Perjalanan Yogyakarta – Magelang kami (bertiga) tempuh tidak kurang dari 1 jam. Pagi hari jam 6 tepat kami tiba di bukit Tidar (Magelang). Bukit tersebut berada di tengah kota dengan luas sekitar 50 hektar. Aku rasa bukit tersebut memang dikelola sebagai paru-paru kota dengan vegetasi pinus dan pohon-pohon salak. Banyak burung ‘pelanduk semak’ bersembunyi dibawah dahan-dahan dan dedaunan salak namun cukup sulit untuk dilihat. Kita harus merangkak-rangkak dan bergerak tanpa menghasilkan suara untuk mendekati burung ini karena dia begitu sensitif dengan manusia. Beberapa kali usaha untuk melihat burung tersebut berhasil walaupun hanya sekilas, kami menikmatinya. Kita terus bergerak naik ke puncak bukit yang dipenuhi dengan makam-makam ‘kejawen’. Makam-makam yang ada disana tidak semuanya merupakan makam untuk jasad manusia namun ada juga makam untuk benda pusaka yang dikeramatkan, contohnya makam tombak ‘kiai sepanjang’. Latar belakang ataupun sejarah makam tersebut bagiku tidak begitu menarik, karena pikirku kami disini untuk pengamatan burung. Dari awal aku bertekat untuk mendapatkan foto burung ‘Madu Jawa (Aethopyga mystacalis’ Karena sebelumnya, salah seorang kami pernah melihatnya. Bagi kami ‘pengamat burung’, burung tersebut sangat menarik karena sudah lama tidak terlihat di alam. Burung tersebut hanya hidup di pulau jawa, bahkan banyak pengamat burung luar negeri yang penasaran dengan burung itu. Kami mendekati satu kawasan di puncak bukit tersebut yang banyak tanaman ‘kaliandra’nya (kalau tidak salah). Mataku mendadak terpaku dan mengarah pada seekor burung kecil seukuran emprit (pipit), lebih kecil sedikit dengan postur tubuh yang jauh lebih ramping. Penglihatanku menangkap warna merah pada kepala, punggung dan sayapnya. Warna merah tersebut mengingatkanku pada warna merah di bendera Indonesia tapi memang terlihat lebih gelap sedikit. Kedua sisi samping tubuhnya berwarna putih terang, sedangkan perut serta dada berwarna abu-abu. Ekornya tampak panjang ditambah perpanjangan pada tengah ekornya, aku pikir perpanjangan tersebut sekitar 1-2 cm. Paruhnya kecil, runcing dan panjang melengkung. Ekor tampak gelap namun tidak begitu jelas warnanya, kemungkinan karena dia bertengger diranting dengan kondisi yang cukup gelap. Aku melihatnya dalam jarak pandang sekitar 7 m. Burung ini terlihat bergerak kesana kemari, sangat lincah berbaur dengan burung lain.  Perilaku burung itu yang lincah pada sekitar jam 9 pagi tersebut membuat kami sangat sulit untuk mengambil gambar. Peralatan yang aku gunakan yaitu 1 monokuler dan 2 kamera digital. Dalam dunia pengamatan burung memotret dengan cara menempelkan lensa obyek kamera ke lensa (okuler) monokuler disebut ‘digiscoping’. Aku kejar terus –menerus sampai kami merasa lelah namun tak satupun jepretan untuk burung tersebut. Berdasarkan ciri-ciri fisik burung tersebut aku menarik kesimpulan bahwa burung itulah ‘Madu Jawa’ yang kami cari. Suatu saat kami merasa kelelahan dan beristirahat sejenak, kami duduk di atas teras sebuah tugu yang menjadi ‘jantung bukit tersebut. Pada suatu saat aku kembali menangkap burung itu dalam pandanganku. Dia berada pada tempat yang lebih gelap daripada sebelumnya, namun sekarang aku lihat dia cukup tenang. Perlahan aku arahkan monokuler ke burung tersebut dan kupersiapkan kamera ‘Nikon Cool pic’ku. Sekarang aku berhasil mengambil sekitar 5 jepretan untuk burung itu, namun bersamaan jepretan ke-enam burung itu pergi dan menghilang. Hanya itu kesempatanku memotret burung tersebut, namun aku merasa sudah puas dengan pengalaman bertemu burung yang menjadi target kami. Aku pikir aku telah bertemu dengan seorang sahabat lama yang hanya kukenal lewat buku panduan dan catatan-catatan lama pengamatan burung. Aku sangat berterima-kasih pada Tuhan dihari itu.