burung-burung di angkasa9
Catatan Burung-burung di angkasa - JBW Bunder 30 Maret 2008
Â
Sebelumnya maaf, saya sebenarnya nggak terlalu pinter  bercerita tapi nggak papa deh, yang penting eksis hehe..emm, Jogja bird walk (JBW) kemarin rame, bener kok ‘kemeriek’ sekitar 40an peserta berpar-ti-si-pa-si (harus hati-hati biar gak terpeleset he,). Tepatnya tanggal 30 maret 2008 kami komunitas pengamat burung di Yogyakarta mengadakan satu acara berkumpulnya para pengamat dan calon pengamat juga calonnya pengamat burung (hayo siapa yang ngerasa?’). kami bertujuh berangkat dari ‘Kutilang’ jam stengah 7 pagi. Lokasi tujuan kami adalah hutan bunder yang berada di kecamatan Playen, kab Gunung kidul. Disitu dilewati sungai Oyo yang berasal dari mata air di perbukitan ‘Karst’ seribu (bahasa jawa = Sewu) di gunung kidul. Sungai Oyo mengalir dan bergabung dengan sungai opak lalu bermuara di pantai Depok, Bantul. Kami bertujuh tiba duluan pukul 8 pagi, baru yang lain mulai berdatangan dari Kelompok Studi Satwa Liar (KSSL UGM), SMP 16 Yogyakarta, UIN, Matalabiogama UGM, bahkan dari UNS surakarta. Wah, tapi kemarin maaf buat pak pram (pengamat burung Jogja senior dan Dosen Universitas Atma Jaya) yang datang telat, udah gitu salah tempat lagi he, (besok lagi kami akan informasikan yang bener..khusus buat senior kita he). Burung Trinil pantai (Actitis hypoleucos) yang kami lihat di bunder mungkin menggunakan jalur sungai untuk bergerak masuk lebih jauh dari daerah pantai. Walaupun namanya Trinil ‘Pantai’, burung ini bahkan pernah dilihat sampai sungai boyong lereng G. Merapi trus di kali Code juga sering teramati, menarik juga sih. Trus kemarin kami juga bertemu kokoan laut (Butorides striatus). Ada yang bilang burung ini migran tapi biasanya di pantai sekarang kok bisa masuk jauh ya. Bunder berada sekitar 20 km dari pantai (kalo gak salah lho..), jadi saya rasa cukup jauh dari pantai. Tapi kemaren kami cukup puas melihat burung sepah kecil (pericrocotus cinnamomeus)  banyaak..he, puluhan mungkin, warnanya bagus, kepala hitam badannya abu-abu, merah, oranye dan kuning meriah, keren!. Burung lain yang mencolok adalah cekakak jawa (Halcyon cyanoventris) dengan warna ungu kemerahan pada kepala, sayap bagian sekitar 1/3 ujung biru terang dan paruhnya merah menyala. Kami melihat burung ini tidak kurang dari 6 ekor dan sering kali melihat saat dia terbang, waktu terbang warna yang paling dominan adalah warna biru menyala dan ‘spot’ putih pada bagian bawah sayap. Burung ini katanya sih endemik Jawa, sesuatu yang indah yang seharusnya menjadi kebanggaan pulau Jawa, hehe.. (walaupun di bali juga banyak sih). Acara JBW tersebut juga disertai dengan sedikit diskusi hasil pengamatan dan semacam pelatihan kecil-kecilan untuk membuat sketsa burung. BB. Setyawan alias saya sendiri hehe..menjadi semacam pemateri untuk sketsa, yah sok pinter aja, walaupun emang pinter sih serius, he. Acara pengamatan sore (gak wajib) juga ada, saya sempat juga melihat sikatan emas (Ficedula xanthopygia) jantan disana. Saya rasa dia mirip dengan sikatan belang (Ficedula westermanni) dari garis putih di sisi tubuhnya dan juga alisnya yang putih, bedanya dada sampai perut yang berwarna kuning. Trus juga mirip dengan Ciu besar (Pteruthius flaviscapis) dengan tunggir kuningnya bedanya cuma dada,perut dan sisi tubuhnya. Kata pak Pram dia burung migran yang pernah dipublikasikan teramati di hutan wanagama didekat sana juga lewat jurnal Kukila tahun 88, wah dah lama banget. Saya coba mengejarnya tapi gak dapet fotonya, tapi malah dapet foto Cekakak Jawa, biasa ‘digiscoping’. Burung-burung lain yang teramati waktu itu : Kirik-kirik senja (Merops leschenaulti), Remetuk laut (Gerygone sulphurea), Cipoh kacat (Aegithina tiphia), Gelatik-batu kelabu (Parus major), Kacamata biasa (Zosterops palpebrasus), Burung-madu Sriganti (Cinnyris jugularis), Cucak kutilang (Pycnonotus aurigaster), Bondol Jawa (Lonchura leucogastroides), Elang-ular bido (Spilornis cheela), Bangau Sendang-lawe (Ciconia episcopus), Perenjak coklat (Prinia polychroa), Cekakak sungai (Halcyon chloris), Cabai jawa (Dicaeum trochileum), Kapasan kemiri (Lalage nigra), Bentet kelabu (Lanius scach) dan tentu saja, burung ‘sejuta umat’ Walet linci (Collocalia linchi). Burung Wiwik, Bubut alang-alang, Cinenen kelabu hanya terdengar suaranya saja. Dari laporan salah satu peserta melihat burung semacam burung sikatan berwarna biru dengan dada sampai perut bergradasi ‘merah-orane-kuning-putih’. Dari deskripsi warnanya kurang begitu detail, kalau kemungkinan sih sikatan cacing (Cyornis banyumas) atau sikatan bakau (Cyornis rufigastra) soalnya tidak lokasi tidak terlalu tinggi. Burung lain yang mirip ciri-ciri itu adalah sikatan bodoh (Ficedula hyperythra) tapi menurut buku ‘Mackinon’ dan pengalaman saya burung tersebut persebarannya di dataran yang lebih tinggi. Kayaknya udah dulu ceritanya ya..Maaf kalo ada salah-salah kata (Banyak ya?..he). Terimakasih
Â
BB. Setyawan (YKI)
Mei 3rd, 2008 at 7:32 pm
Halo! Kunjungan balik nih. Semangat birdwatching terus ya….. Monggo mampir ke sini juga http://wildlifewisdom.wordpress.com
Mei 4th, 2008 at 8:06 pm
thats sound very good, i ll be waiting for any comments hehe